LINA
oleh Erlin Erlina Soraya
Mendung bergelayut, awan kelabu kehitam-hitaman, nampak begitu rendah,
angin dahsyat mulai membawa hujan, siapa bisa cegah. Wilayah tempat
gadis muda itu berada, semakin menggelap.
Gadis muda, dengan
baju panjang merah maron yang dikenakannya itu, nampak mempesona. Bahkan
dia tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak ia
duduk di beranda. Mungkin lantaran cuaca begitu buruk. Atau suasana
hatinya yang sedang buruk sehingga tak lagi sempat memperhatikan
sekitar.
"Apa yang sedang dipikirkannya sehingga ia harus
menunduk begitu lama?" Membatin pemuda itu. Heran. Seketika keherannanya
kian menyembul ketika wajah gadis itu tengadah dan ada yang menggenang
di kelopak matanya, nyaris tumpah. Apa lagi saat melihat ia bangkit dan
berjalan keluar menembus hujan. Rasa penasarannya semakin pula.
Lebih-lebih ketika dengan air hujan gadis itu menyeka wajahnya yang
nampak begitu cantik, tapi pucat.
"Tuhan, kenapa dia juga tak
perduli, padahal kilat berdenyar, guruh menggelegar?" Entah kenapa
perasaan pemuda itu tersayat, saat cahaya yang sekelebat menampak gadis
itu sedang menangis... Dan dengan diam-diam dia mengikuti
langkah-langkah gadis itu.
"Stop...! Jangan teruskan...berhenti
di situ!" Pemuda itu seketika memekik tanpa sadar, bersamaan dengan
cahaya kilat yang seolah membelah langit teriring guruh yang
menggelegar. Melihat gadis itu terus berjalan, entah sengaja atau tidak
hingga kebibir jurang.
"Kau, siapa kau... Berani-beraninya...!"
Pemuda itu khawatir, namun tak punya waktu untuk menjawab. Seketika pemuda itu meraih pergelangan tangan gadis itu.
"Apa kau tak lihat di depanmu jurang menganga? Apa kausengaja?"
"Apa pedulimu, bahkan aku sama sekali tak mengenalimu!" sembari
mengibaskan tanganya dengan kasar, namun tak berhasi terlepas dari
genggaman.
Tak urung lelaki muda becelana jins berkaos hitam
itu tercenung, terdiam. Entah yang harus dia lakukan. Namun tangannya
tak dilepaskannya dari pergelangan tangan gadis itu.
"Apa yang
kau tahu, sehingga kau berani mencegahku, apa kau tahu, tentang
masa-masa yang telah terlewat, masa tergawat yang aku jalani? Masa yang
memaksaku untuk tidak mengharapkan apapun atau siapapun lagi?"
"Aku tidak tahu apa-apa tentangmu, yang aku tahu sekarang adalah mencegahmu untuk melakukan hal bodoh itu...!"
Lelaki mudah bercelana jeans berkaos hitam basah kuyup, seperti gadis
muda yang tanganya masih berada di genggamannya. Ia terbawa oleh suasana
sedih, melihat gadis muda itu yang sesekali menghela napas panjang,
pejamkan mata, berupaya menahan kesedihan. Tubuh mungilnya semakin
menggigil, membuat laki-laki muda itu iba... Sebab air hujan yang kian
lebat.
Entah sadar atau tidak, gadis itu menurut saja saat diajak turun dari tebing. Keduanya mengayun langkah berlahan-lahan.
Namun baru beberapa meter mengayun langkah turun seseorang berteriak cemas: "Lina...! Lina...! Dari mana saja kau nak....?"
Seketika gadis itu melepaskan diri dari genggaman seraya berlari
memeluk ibunya. Pemuda itu baru tahu. Ternyata yang memanggi Lina itu
adalah ibu dari gadis yang bersamanya.
Mentari keemasan membagi
sinarnya lewat jendela kamar, menghangatkkan Lina dalam cahaya terang.
Lembut belaian angin pagi berdesir. Aroma mawar yang dia petik kemarin
memenuhi ruangan, memanjakan penciuamnnya.
Lamunannya seketika
buyar begitu terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Pintu sedikit
terbuka. "Sudah bangun? Ditunggu pemuda yang semalam bersamamu, di ruang
tengah, mau kautemui atau tidak?"
"Ya bu, suruh dia menunggu sebentar." Lina berkaca sebentar merapikan diri.
Begitu sampai di ruang tengah, Lina langsung menyalami pemuda itu. "Mohon maaf, atas kejadian semalam... Saya Lina."
"Ya, tahu, saya Aldi, dan orang suka memanggilku Di saja."
"Kok...tahu aku Lina?"
"Iya, kan aku dengar semalam ibumu memanggilmu Lina."
Sampai di situ, Lina dan Aldi semakin akrab, pertemuan demi pertemuan
di rumah Lina semakin sering saja, saling bertukar cerita, bertukar
pengalaman, juga berdiskusi jika diperlukan. Mereka berdua digelimangi
rasa bahagia. Lina hampir melupakan semua yang telah sudah, luka sekian
tahun seperti berhenti mengiringnya. Dan Aldi, merasa telah menemukan
gadis yang didambakannya.
Aldi sangat memahami Lina, yang tidak
seperti gadis lain, bisa dengan bebas diajak kemana dia suka. Aldi
semakin menyayanginya, bahkan ketika tahu, kondisi Lina sangat lemah.
Sakit yang dideritanya bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Dari situlah
Aldi mengerti kenapa malam itu Lina terlihat begitu putus asa.
Sampai suatu hari Aldi harus pulang kekampung halaman, hubungan Lina dan
Aldi masih selalu mulus tanpa hambatan, meski mereka terpisah jarak,
komunikasi tetap lancar. Aldi tinggal di Sumatera dengan keluarganya,
hanya sesekali saja dia berkunjung ketempat saudaranya di Jawa, yang
rumahnya bersebelahan dengan tempat Lina tinggal.
Har-hari Lina
penuh warna sejak dia mengenal Aldi, wajah kepucatannya kian terang.
Apalagi mendengar kabar ia akan segera dipinang.
Angin senja
mengibas rambut Lina, seirama nada lirih desir angin. Pucuk daun pohon
cemara menari-nari, ciricit burung merdu terdengar indah di telinga
Lina.
"Tuuutt... Tuuttt... Tuutt..." Bunyi ponselnya membuyarkan keindahan yang sedang dinikmatinya.
"Lina... Maafkan aku, sayang..."
"Kenapa Di...?"
"Klik." Telepon dari seberang tertutup, sebelum Lina mendapat jawaban.
Lina berusaha telpon balik, namun tidak ada jawaban. Sekali diangkat
tapi suara perempuan yang dia dengar. "Tahu diri ya, perempuan
penyakitan!"
Dan sampai detik Lina merasa dunia tak pantas untuk dia ratapi, tak lagi pernah mendengar kabar tentang Aldi.
BNA Wanadadi 28082013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar