Senin, 14 Oktober 2013

CERPEN: LINA

LINA
oleh Erlin Erlina Soraya




Mendung bergelayut, awan kelabu kehitam-hitaman, nampak begitu rendah, angin dahsyat mulai membawa hujan, siapa bisa cegah. Wilayah tempat gadis muda itu berada, semakin menggelap.

Gadis muda, dengan baju panjang merah maron yang dikenakannya itu, nampak mempesona. Bahkan dia tak menyadari ada sepasang mata yang memperhatikannya sejak ia duduk di beranda. Mungkin lantaran cuaca begitu buruk. Atau suasana hatinya yang sedang buruk sehingga tak lagi sempat memperhatikan sekitar.

"Apa yang sedang dipikirkannya sehingga ia harus menunduk begitu lama?" Membatin pemuda itu. Heran. Seketika keherannanya kian menyembul ketika wajah gadis itu tengadah dan ada yang menggenang di kelopak matanya, nyaris tumpah. Apa lagi saat melihat ia bangkit dan berjalan keluar menembus hujan. Rasa penasarannya semakin pula. Lebih-lebih ketika dengan air hujan gadis itu menyeka wajahnya yang nampak begitu cantik, tapi pucat.

"Tuhan, kenapa dia juga tak perduli, padahal kilat berdenyar, guruh menggelegar?" Entah kenapa perasaan pemuda itu tersayat, saat cahaya yang sekelebat menampak gadis itu sedang menangis... Dan dengan diam-diam dia mengikuti langkah-langkah gadis itu.

"Stop...! Jangan teruskan...berhenti di situ!" Pemuda itu seketika memekik tanpa sadar, bersamaan dengan cahaya kilat yang seolah membelah langit teriring guruh yang menggelegar. Melihat gadis itu terus berjalan, entah sengaja atau tidak hingga kebibir jurang.

"Kau, siapa kau... Berani-beraninya...!"

Pemuda itu khawatir, namun tak punya waktu untuk menjawab. Seketika pemuda itu meraih pergelangan tangan gadis itu.

"Apa kau tak lihat di depanmu jurang menganga? Apa kausengaja?"

"Apa pedulimu, bahkan aku sama sekali tak mengenalimu!" sembari mengibaskan tanganya dengan kasar, namun tak berhasi terlepas dari genggaman.

Tak urung lelaki muda becelana jins berkaos hitam itu tercenung, terdiam. Entah yang harus dia lakukan. Namun tangannya tak dilepaskannya dari pergelangan tangan gadis itu.

"Apa yang kau tahu, sehingga kau berani mencegahku, apa kau tahu, tentang masa-masa yang telah terlewat, masa tergawat yang aku jalani? Masa yang memaksaku untuk tidak mengharapkan apapun atau siapapun lagi?"

"Aku tidak tahu apa-apa tentangmu, yang aku tahu sekarang adalah mencegahmu untuk melakukan hal bodoh itu...!"

Lelaki mudah bercelana jeans berkaos hitam basah kuyup, seperti gadis muda yang tanganya masih berada di genggamannya. Ia terbawa oleh suasana sedih, melihat gadis muda itu yang sesekali menghela napas panjang, pejamkan mata, berupaya menahan kesedihan. Tubuh mungilnya semakin menggigil, membuat laki-laki muda itu iba... Sebab air hujan yang kian lebat.

Entah sadar atau tidak, gadis itu menurut saja saat diajak turun dari tebing. Keduanya mengayun langkah berlahan-lahan.

Namun baru beberapa meter mengayun langkah turun seseorang berteriak cemas: "Lina...! Lina...! Dari mana saja kau nak....?"

Seketika gadis itu melepaskan diri dari genggaman seraya berlari memeluk ibunya. Pemuda itu baru tahu. Ternyata yang memanggi Lina itu adalah ibu dari gadis yang bersamanya.

Mentari keemasan membagi sinarnya lewat jendela kamar, menghangatkkan Lina dalam cahaya terang. Lembut belaian angin pagi berdesir. Aroma mawar yang dia petik kemarin memenuhi ruangan, memanjakan penciuamnnya.

Lamunannya seketika buyar begitu terdengar ketukan pelan di pintu kamarnya. Pintu sedikit terbuka. "Sudah bangun? Ditunggu pemuda yang semalam bersamamu, di ruang tengah, mau kautemui atau tidak?"

"Ya bu, suruh dia menunggu sebentar." Lina berkaca sebentar merapikan diri.

Begitu sampai di ruang tengah, Lina langsung menyalami pemuda itu. "Mohon maaf, atas kejadian semalam... Saya Lina."

"Ya, tahu, saya Aldi, dan orang suka memanggilku Di saja."

"Kok...tahu aku Lina?"

"Iya, kan aku dengar semalam ibumu memanggilmu Lina."

Sampai di situ, Lina dan Aldi semakin akrab, pertemuan demi pertemuan di rumah Lina semakin sering saja, saling bertukar cerita, bertukar pengalaman, juga berdiskusi jika diperlukan. Mereka berdua digelimangi rasa bahagia. Lina hampir melupakan semua yang telah sudah, luka sekian tahun seperti berhenti mengiringnya. Dan Aldi, merasa telah menemukan gadis yang didambakannya.

Aldi sangat memahami Lina, yang tidak seperti gadis lain, bisa dengan bebas diajak kemana dia suka. Aldi semakin menyayanginya, bahkan ketika tahu, kondisi Lina sangat lemah. Sakit yang dideritanya bertahun-tahun tak kunjung sembuh. Dari situlah Aldi mengerti kenapa malam itu Lina terlihat begitu putus asa.

Sampai suatu hari Aldi harus pulang kekampung halaman, hubungan Lina dan Aldi masih selalu mulus tanpa hambatan, meski mereka terpisah jarak, komunikasi tetap lancar. Aldi tinggal di Sumatera dengan keluarganya, hanya sesekali saja dia berkunjung ketempat saudaranya di Jawa, yang rumahnya bersebelahan dengan tempat Lina tinggal.

Har-hari Lina penuh warna sejak dia mengenal Aldi, wajah kepucatannya kian terang. Apalagi mendengar kabar ia akan segera dipinang.

Angin senja mengibas rambut Lina, seirama nada lirih desir angin. Pucuk daun pohon cemara menari-nari, ciricit burung merdu terdengar indah di telinga Lina.

"Tuuutt... Tuuttt... Tuutt..." Bunyi ponselnya membuyarkan keindahan yang sedang dinikmatinya.

"Lina... Maafkan aku, sayang..."

"Kenapa Di...?"

"Klik." Telepon dari seberang tertutup, sebelum Lina mendapat jawaban.

Lina berusaha telpon balik, namun tidak ada jawaban. Sekali diangkat tapi suara perempuan yang dia dengar. "Tahu diri ya, perempuan penyakitan!"

Dan sampai detik Lina merasa dunia tak pantas untuk dia ratapi, tak lagi pernah mendengar kabar tentang Aldi.

BNA Wanadadi 28082013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar