SEBAB KAU...
Sesalmu tak habis-habis, kenapa tak
kaudengar bisiknya ketika mengajakmu ke pengembaraan sepanjang mendung,
menghabiskan masa senjanya? Kaubiarkan tubuhnya separuh membeku, ketika
hujan menitipkan dinginnya pada siang.
Sepi yang kaurasakan kian
menekan, mendesak hingga sesak. Dia yang selalu datang serupa bayang,
menghilang. Dan hujan yang langit tumpahkan terasa sayatnya, namun tak
kaupedulikan, bahkan tengadah di bawahnya, tak jua kauusaikan.
Yang terbayang, Cehiko berada di atas punggung kuda putih serupa awan,
bediri segagah dia hadapanmu. Datang memenuhi janji pergi ketempat
impian. Dari sumringah wajahmu aku tahu. Namun kenyataan harus
kauterima, hingga seketika senyummu sirna. -EES-
8 Juni 2014

Tidak ada komentar:
Posting Komentar