Kini, nyaring detik-detik waktu, mengusik. Kuturuti, ke mana ia pergi, berlalu meninggalkan segala porak poranda. Ini bukan pertama kalinya, sejak aku meninggalkan luka yang tak terhindarkan.
Terjagaku dari mimpi, dengan panik menyusun serpihan rasa. Bertahan dari kepunahan asa, meski kejamnya hari-hari lebih dari panas bara. Biar. Akan terus kucari, jatuhnya berkas cahaya.
Dan di sana....lelah punggungku, ingin kusandarkan.
BNA, 23112014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar