Seperti bermimpi, pernah berada di tempat asing, ketika pandangan kupejam, terbayang, kota terhampar di hadapanku hanya luka-luka berlapis yang kulihat, jalan-jalan mengerikan. Semakin lama kupejam semakin menakutkan. Berbeda, jika dibandingkan sebelum aku terdampar di kota itu. Sebelum keinginan-keinginan meracuni....
Aku mulai mendaftar setiap kejadian-kejadian yang menimpa, dari simpuh
sujud demi sebuah keinginan, memaksa-Nya mengabulkan setiap pinta yang
kulepas. Aku tidak menyangka, Dia sungguh membuatku seketika gambira,
merasa berhasil. Tapi itu tak berlangsung lama.. Aku jatuh, masa depan
yang aku impikan seketika sirna.
Percik merah itu, membuatku merasa segalanya telah berakhir. Setiap hari pertanyaan berkelebat-kelebat seperti cahaya pedang yang hendak ditebaskan. "Apakah Tuhan akan memberiku umur panjang?" Setelah yang berjubah putih-putih itu seolah memberiku isarat, "Jangan jatuh cinta lagi, kelak ia akan membuatmu mati."
Hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun demi tahun yang aku lalui sejak saat itu tidaklah mudah... Sekuat bisa aku menyesuaikan diri, tentu saja membuat yang tidak biasa mnjadikannya biasa dan sama. Setiap saat kulepas pinta, untuk dicintai-Nya dengan melimpah.
Anehnya, aku seperti membuat kesepakatan dengan diriku sendiri, terus menunggu giliran, tetap melanjutkan kehidupan. Sepakat, terus membayangkan kenyamanan, kedamaian, ketenangan. Menutup setiap celah agar tak menyusup luka-luka. Merelakan setiap keinginan satu demi satu pergi, menggantinya dengan harapan terbaik pada Dia, Yang tak pernah ingkar janji.
Sesungguhnya hidup telah mengajariku.
Percik merah itu, membuatku merasa segalanya telah berakhir. Setiap hari pertanyaan berkelebat-kelebat seperti cahaya pedang yang hendak ditebaskan. "Apakah Tuhan akan memberiku umur panjang?" Setelah yang berjubah putih-putih itu seolah memberiku isarat, "Jangan jatuh cinta lagi, kelak ia akan membuatmu mati."
Hari-hari, bulan-bulan, bahkan tahun demi tahun yang aku lalui sejak saat itu tidaklah mudah... Sekuat bisa aku menyesuaikan diri, tentu saja membuat yang tidak biasa mnjadikannya biasa dan sama. Setiap saat kulepas pinta, untuk dicintai-Nya dengan melimpah.
Anehnya, aku seperti membuat kesepakatan dengan diriku sendiri, terus menunggu giliran, tetap melanjutkan kehidupan. Sepakat, terus membayangkan kenyamanan, kedamaian, ketenangan. Menutup setiap celah agar tak menyusup luka-luka. Merelakan setiap keinginan satu demi satu pergi, menggantinya dengan harapan terbaik pada Dia, Yang tak pernah ingkar janji.
Sesungguhnya hidup telah mengajariku.
BNA, 09122014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar