Minggu, 07 Desember 2014

TENTANG GADIS VII


Gemereciknya, isarat harus henti... Jatuhnya ia, hibaan, minta segala dera sirna. Namun kau malah berbalik ke silam, masa yang mestinya hanya kaukenang.

Lalu apakah aku bagimu, hingga abaimu di setiap celah? Ah, kau semakin jauh kelembah lain, hingga terlupa, indahnya langkah-langkah kecil kemarin.

Dalam diriku, apa ini disebut iba atau murka? Kau membiarkanya membuatmu lena, bahkan hingga terpercik merah darah. Ejalah setiap detak malam hingga pagi, adakah benderang sudi bertandang setelah ini?

Gadis, aku kian lelah, tak henti menghitung hari, beribu tanya mengiris; Adakah kau masih menyimpan nama-Nya, di relung hati?

BNA, 07122014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar