Minggu, 14 April 2013

KENAPA AKU, WAJAHKU?




KENAPA AKU, WAJAHKU?
oleh Erlin Erlina Soraya


Di senja berikutnya aku harap kau masih ada di balik sana. Akan kuajak kau kembali pulang, kemudian seperti biasa, bersama melintas membelah malam. Jangan sampai kulihat lagi mendung di wajahmu, terlalu gelap, seperti terselubung cahaya lentera yang temaram.

Dan gusar, jangan kaubiarkan dia hinggap menggulma, mengakar hingga aku tak sanggup mencabutnya. Kaulihat aku, yang tak bergeser sedikit pun berdiri di ambang pintu masuk. Menunggumu.

Kau, tidak perlu merasa lelah, ketika melihatku yang mulai bergerak. Kaudengar aku, "aku sangat suka melihatmu yang mulai berseri, bahkan saat kaubaru terbangun dari tidurmu." Hoh... perubahan-perubahan kecilmu itu sangat memesonaku.

Ini bukan untuk yang pertama kali, aku menatapmu dari dekat. Selebat rambut gelapmu, mata yang selalu elang, yang terlindung bulu mata tebal, hidung mancung, bibir yang menyimpan sungging dan dagu terbelah. Semakin membuat wajahmu yang tegas, kian gagah.

Aku tahu, kau pun suka menatapku lekat-lekat, entahlah, kenapa wajahmu begitu penasaran.

BNA Wanadadi 15042013
Ilustrasi: Internet

Tidak ada komentar:

Posting Komentar