oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 9 Oktober 2012 pukul 4:59
"Aku mencintaimu, maukah kau menemaniku? Jadilah kekasihku, menikah denganku."
Mendadak suaraku hilang, tertahan di kerongkongan, dan aku, hanya tertunduk, menyembunyikan peluh di keningku. Namun ku selalu tak punya jawaban untuk pertanyaan sama seperti beberapa pekan lalu.
Seperti juga kemarin, tiba-tiba saja ada yang menelponku menawarkan dirinya, untuk mengobati lukaku, katanya. "Percayalah, aku datang untukmu, aku tahu kau sedang terluka, maka terimalah aku." Mendadak lidahku kelu, bisu, diam dan hanya terpaku, masih dengan ponsel menempel di telingaku. Masih dengan perasaan yang sama, aku tak mempunyai jawaban. Kenapa semua terkesan mendadak, sehingga aku tersentak dan tak percaya.
Tak hanya malam ini, aku merasa kosong, hampa, tidak tahu harus apa. Malam sudah semakin merayap ke ujung larut, bahkan sudah hampir pagi. Jam di kamarku menunjukkan pukul dua kurang sedikit. Kantuk yang dari tadi kutahan sudah mulai menghilang. Bahkan mataku semakin susah untuk kupejamkan. Sementara hujan terus turun, dan udara semakin dingin. Aku mulai menggigil kedinginan, namun ada yang lebih aku butuhkan dari pada selimut hangat.
Adalah ketenangan batin yang sudah sekian waktu terasa begitu kerontang. Dari hati yang paling dalam aku memohon ampun, karena aku merasa telah mulai menjauhi-Nya. Kecemasan dan ketakutan mulai melanda relung hatiku yang terdalam. "Duhai Tuhan, Kau penciptaku, yang menghidupkan dan mematikanku, terimalah permohonanku, beri kesempatan padaku untuk terus hidup, dan membenahi kehidupanku. Ulurkan tangan-Mu, tolonglah aku. Aku tak perduli, berapa kalipun akan terus kusebut Asma-Mu."
Aku berharap, Tuhan mendengar suara hatiku, tidak melupakanku, uluran kasih sayang-Nya kuharapkan di tiap waktuku.
BNA Wanadadi 11/10/2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar