1/ TEMANI LANGKAH KECILKU
oleh Erlin Erlina Soraya
Di sana, masih adakah ruang? Sepetak saja untukku...demi setatapan teduh, selengkung senyum. Biar kudatang, rasakan nikmat lapar, nikmat haus, nikmat sabar, dan kemenangan yang indah.
Hari kemarin biarlah jadi sebuah mimpi. Kau, bantulah aku melupakan, menjadikannya sebagai kenangan, dan sekarang, adalah keindahan yang Kau sempurnakan.
Aku hanya perlu berbenah, mengubur kisah laraku, di rengkuh-Mu, dalam dekap-Mu. Biar kusenandung lagu cinta, yang Kau suka, di tiap detak jantung denyut nadiku. Terus beriring, bagai buih ombak berkejaran, di pantai.
Rinduku menyapa, Engkau tahu meski tak harus dengan teriak. Kusemat seuntai harap, di malam hingga pagi senyap. Kekasih, temanilah langkah kecilku, menuju fajar terang.
Telah Kau titipkan pesan pada burung-burung, pada awan, pada pohon-pohon, pada bukit-bukit, biar terang kudengar mereka lirih bertasbih, mengiring langkahku. Juga pada kesiurnya angin...kurasakan tiupan cinta-Mu.
BNA Wanadadi 30172013
2/ AH, YAN...
oleh Erln Erlina Soraya
Aku hanya suka melihatmu tersenyum Yan... Dari pagi hingga senja menjelang, kau...tak lagi seperti di ceritamu kemarin. Setiap yang menghempas bukan alasan untuk patah.
Ada bagian yang menguatkan... Bahkan kau tak menyadari, sudah sejak lama ada.
Ah, Yan.. apa kau ingat, saat mengajakku melihat satu-satunya bintang yang bertahta di alam raya? Ia semakin nampak jelas, sebab gulita langit,tempatnya menggantung.
Bukan lagi rambut panjang yang kausibakkan, hijab itu sudah cukup menampakkanmu sebagai perawan putih. Dan secerah sinar tadi, masih sama terangnya, bahkan kian terang.
Kau bisa lihat Yan, bagaimana bintang menyaksikanmu malam ini.
BNA, 15082014
3/ TENTANG GADIS (I)
Perempuan yang kusebut gadis, merasai sakit. Hatinya berongga...terkoyak sebeb luka berdarah-darah.
Kabut dingin perlahan mengitarinya, membekukan aliran darah, membuatnya tak bisa bergerak. Hirupan napasnya sesak.
Ah, setiap deritanya, telah tersaji di nampan hari, tak sanggupkah ia menumpahkan, setelah membenamkan diri dalam senyap?
Gadis... Rebahkanlah hatimu di atas sajadah, hingga napas tersisa hela. Keluarlah, dari liang luka.
BNA, 28102014
4/ TENTANG GADIS (II)
Dinginnya angin dimuntahkan malam... Membuat kenangan merasuk hingga jauh.
Separuh hidupmu. Gadis.
Kulihat kau berlari hingga ujung gelisah, lewati bilangan hari, hingga lupa lara menelusup pori.
Setiap tanya terlepas, kau hanya diam, mata terpejam, kesakitan, tak henti mengingat sisa-sisa ingatan.
Pada waktu...kauseru, untuk berhenti, namun ia tak perduli, terus angkuh berjalan meski berkali lolong pinta kaulepaskan.
BNA, 28102014
5/ TENTANG GADIS (III)
Napasmu tersengal, kupapah dengan diam. Kau, dihampiri bermacam rasa yang bahkan tak mampu kautelan, hingga segala nikmat tercampakkan.
Nyala sumbu asamu kian meredup, tak memendar cahaya, setelah terhisap luka, tinggal puing-puing tersisa, kaurintihkan tak tertanggungkan.
Bukankah setiap rentang tegang kau dengannya, terdamaikan? Kenapa dera luka masih kaubiarkan bersemayam? Lalu hatimu bergulat dengan siksa, hingga napas hampir tak sanggup kauhela.
Duhai kau, yang kusebut gadis, kenapa tak berkhidmat, bertekad kuat dalam kelamahan?
6/ TENTANG GADIS (IV)
oleh Erlin Erlina Soraya
Akhirnya, perempuan yang kusebut gadis itu, harus merelakannya.
Ketika yang disebutnya lelaki yang tak pernah punya janji memberinya ruang lega, ternyata tak membuatnya gembira. Dalam hati, saat ia beranjak pergi, ingin memanggilnya kembali.
Rindu bersama, melihat kembali alam raya gulita...rindu bintang bertahta di sana. Pun terangnya purnama, yang menyelinap di lubang ngengat jendela.
7/ TENTAG GADIS (V)
oleh Erlin Erlina Soraya
Ini bukan derai air kesedihan, secabik daun pun tidak basah sebab dia. Duhai gadis, apa kau tak lihat, bulan tersenyum padamu? Dia dibuat tak lelah oleh-Nya, biaskan sinar sepanjang gulita.
Kenapa sampai kauhentikan perjalanan? Jangan tergesa, pun berhenti, tapi rehatlah di tempat terdekat, jangan takut, kau takkan terlindas derunya kesah.
Lupakan, kemalangan yang memagut, itu membuat mulut rapat terkatup. Meski merayap duka, biar ia jadi kenangan saja.
8/ DENGANMU LENTERAKU
oleh Erlin Erlina Soraya
Ketika aku dalam gulita, kau adalah lentera, yang mengantarku pada terang-Nya. Dalam gelap, kau lebih merasakan cinta-Nya.
Merindukan sinar bulan, cahaya matahari...itu aku. Kau bahkan telah menyimpan terang keduanya dalam hati.
Peta menuju-Nya pun sudah kausalin, kausimpan, kaubingkai indah di dinding nurani. Juga nyanyi sunyi yang biasa kausuka, selalu ada di selanya. Iramanya tak pernah sirna, menemani setiap kaulantunkan yang Dia cinta.
Gerbang itu pasti terbuka, kelak kau adalah penghuni istana-istana megah-Nya. Bunga-bunga yang kausemai di halamannya akan tersenyum memesona. Ia abadi, dan takkan meremah lagi.
Kaubawalah aku di helai-helai waktumu, bersama menyapa-Nya, menyapa kabut, ajak aku berteman dengan embun, juga matahari yang tak pernah ingkar janji.
Di balik gulita, kau bahkan banyak bercerita tentang warna, yang aku belum pernah melihatnya. Langit yang tak pernah pucat, bulan tak pernah meredup, bintang selalu kejora, dan matahari tak pernah kehilangan sinarnya.
BNA Wanadadi 29062013
9/ DUHAI KAU
oleh Erlin Erlina Soraya
Doa-doamu, serupa anak panah meluncur dari busur, tak luput dari pengawasan-Nya. Bagai lesatan cahaya bintang di langit, tak lepas dari penglihatan-Nya. Bagai gemericik air hujan yang selalu diturunkan-Nya.
Kau, selalu menyadari ketika dosa-dosa telah tertampung dalam tabung penghalang, nur-Nya. Kau tahu saat harus bersegera kembali pada petunjuk-Nya, ke mana jerit permohonan, meminta pengampunan.
Ketika ketidakberdayaan melandamu, mengamuk bagai gelombang lautan, bagai angin badai... Hanya pada-Nya kau mengaku tak berdaya. Betapa kau tak meragukan kekuatannya-Nya, kemahakasih-Nya. Kau... tak pernah hentikan lisan melafadzkan asma-Nya.
BNA wanadadi 06052013
10/ KOK, JADI GINI...
10/ Namaku Tari
Terpaksa pensiun jadi istri
Suami nikah lagi
Anakku Lani
Cita-cita sekolah tinggi
Terpaksa aku pergi
Ke luar negeri
--------------------------
2/ Tahun 2003
Suami tak kerja lagi
Aku pamit
Ke luar negeri
Perbaiki ekonomi
Uang kukirim suami
Tahun 2005
kuperpanjang
Kata suami
Belum cukup modal
Usaha lagi
Sampai tahun 2007
Suami kabari
Rumah perlu diperbaiki
Terpaksa
Bertahan lagi...
Setelah tahun 2009
Anakku masuk sekolah tinggi
meski lelah
kuperpanjang 5 tahun lagi
Aku sudah tidak tahan lagi
Aku pulang
Tak ngabari
Sampai rumah...
Suami sudah kawin lagi
--------------------------
3/ Mbah, memanggilku Marni
Kemarin cerita
Emak pergi
Ke luar negeri
Sudah lama tak kabar kabari
Suatu hari
Ada paket besar dikirim untuk kami
Ternyata peti mati
BNA, 05102014
11/ ROSE (I)
oleh Erlin Erlina Soraya
Kudengar tentang kejadian, menimpamu...pelan, memukul-mukul dada. Sebab kau terperangkap dalam lorong sempit yang dijejali kerikil tajam, batu-batu terjal. Berkali kuhela napas, merasakanmu sesak di dalam sana.
Kau... Harus dengan sebesar mungkin upaya dan tekad, keluar, menerjang segala yang menjejal.
Dengar, Rose... Teriakanmu takkan terdengar, hanya serak menyakitkan, maka diam dan berjalanlah. Jangan sebab telah kautoreh ikrar, yang bertahun tersemat dalam hatimu, lalu kaubiarkan ia penuh luka.
membahagiakan, melihat kau serupa kupu kecil, mengembangkan sayap, merentang cahaya.
Dan, cobalah ingat lagi, tentang pelangi tempat kau senandungkan lagu, di bawah lengkungnya, merengkuh hangat cinta yang Dia tawarkan.
BNA, 26092014
12/ ROSE (II)
oleh Erlin Erlina Soraya
Kau tahu, jalanan di luar sana penuh, duri... Ada banyak menanti di setiap sudut. Aku yakin, yang terburuk bisa jadi menghadangmu.
Kau tataplah juga gumpalan asap di hadapanmu, tak cukup hanya dengan mengibaskan telapakmu ia sirna. Juga dengan muram wajahmu...
: Cukup senyummu saja.
Sepenggal lagi, kau tahu Rose... Sepengal lagi, hidup yang hendak kaujalani' biarkan sebagian dari dirinya masih tetap hidup dalam dirimu, menumbuhkan asa yang nyaris terkubur. Tidak apa, jika itu menjadi satu-satunya yang masih tersisa.
BNA 29092014
13/ ROSE (III)
oleh Erlin Erlina Soraya
Bahkan kau tak lagi mengenali dirimu. Tak seorangpun kauijinkan memecah sepi, apa yang menyelimutimu hingga mengutuki diri, mengutuki gelap lalu menolak pelita-Nya?
Apa kau tak lagi sanggup menyelam Rose, hingga kedalaman yang biasa? Kau tahu lautan nikmat itu memang dalam, tanpa cahaya kau takkan melihat keindahan, menikmati setiap pesona milik-Nya.
Kau juga sama, seperti setiap yang bernapas, nikmatilah keindahan. Jangan lagi membisu di sudut gelap, bangunlah, setiap karunia-Nya adalah sapaan lembut-Nya.
Menangislah, jika ingin menangis, kaupejamkan matamu, biarkan bening air mata mengalir, dan semoga ketika mata terbuka, akan lihat cahaya sempurna karunia-Nya.
BNA 25042014
14/ Seketika Tentang Aku dan Kau
oleh Erlin Erlina Soraya
Bahkan ini adalah hariku, sembarani yang membawamu dua tahun lalu tak juga kembali menjemputku. Di mana pun sekarang, kuhanya berharap, kau berada di tempat terindah.
"Khayangan... Aku akan pergi ke sana, memenuhi panggilan mulia-Nya..." Begitu yang kaubisikkan terakhir dulu padaku.
Meski rela, berat melepasmu pergi, tanpa mengajakku. Lambaian tangan yang tak sempat kulihat, membuat luka semakin nganga. Hari yang kutunggu setelah dua tahun... Menyisa rindu.
Dan dia, takkan membuatku melupakanmu. Biar, terus kusenandungkan lagu, seperti permintaanmu, kisah kehidupan seperti yang kuingat tentang kita. Kembali percaya pada kekuatan cinta, kekuatan mimpi-mimpiku dan mimpimu untukku.
BNA, 08062014
15/ Sebab Cinta Terlanjur Singgah
oleh Erlin Erlina Soraya
Pada malam, kubaringkan rasa, ia terburai tadi, tentang rintih, yang mengalir di sekujur tubuhku, aku tak sanggup menjadikannya sebuah cerita. Di kelopak tak lagi ada tetes bening menggenang, apa lagi hingga tumpah, bahkan bola mataku pun sudah tak lagi mengaca.
Ini bukan yang serupa biasa, hingga membuatku ingin berlari saja, sebelum ujung waktu memanggil namaku. Kau tahu, demi cinta kutelusur bukit kecil berselimut kabut, ketika temaram senja memudar beganti kelam, tak perduli bias semakin jauh meninggalkan, namun cinta tak pernah menghilang.
Riuh di dadaku, juga bukan biasa... Kenapa jadi begitu lara? Mungkin sebab cinta terlanjur singgah, hingga teriak jiwaku tak terdengar lagi, aku hanya takut bulir doa menjadi sia-sia.
Lembar demi lembar, kubuka perjalanan yang telah sudah; Kusut masai. Ah, kembaraku seperti melangkah di kerikil tajam, terikat di relung batu karang. Aku ingin berputar arah, namun angin di depan sana lebih badai.
Kekasih, biarkan aku meniti jembatan panjang itu, pinjami aku pelita, pelita yang kupunya sudah meredup, nyaris mati. Aku tahu, di ujung sana masih ada permadani yang terhampar, setelah jembatan...
BNA Wanadadi 31052013
16/ / AKU dan KAU PENUNGGANG SEMBRANI; BERANI!
oleh Erlin Erlina Soraya
Aku harus mengerti ketika kau sudah tidak ingin bicara, berbagi keindahan denganku. Kau, sepertiku, penunggang sembrani, berani menembus awan, membelah langit kelam.
Kau hanya bisikkan; Aku dan kau sama, sang penunggang semberani perkasa mengarungi, awan. Pantang takut, pantang gentar. Tantang tembus langit sekalipun hitam kelam mega menghalang. Tembus! hapus kegelapan, jemput kecerah-ceriaan. Yang kelam hitam berubah cerah, gores garis pena koas warna warni. Berani!
Selalu kudengar, gemeresik, merdunya musik mengiring irama warna-warni sang pemberani penunggang sembrani, jejak langkah dini hari, hingga fajar cerah. Senyum rekah indah teriring musik mengusik. Menerawang ke awang-awang terbang riang keawan putih, senandung sang pawang keindahan, kebahagiaan.
Meski mendung hari siang pun pagi tak usahlah bersedih terlalu duhai puteri tamansari, tapi tegak beranjaklah bersama tungganganmu sembrani, dalam gerak semarak melintas taman mega luas. Dekap erat asamu, pantang renggang, lekatkan dalam semangat selaras tekad. Terbang membelah angkasa, gugah, gubahlah puisi indah, seindahmu: Puisi! Seindahmu.
Dan seru bisikmu, pijak jejaklah langkah dakilah tebing meski kauanggap asing, melintas lereng hingga puncak tinggi tebarlah pandang luas tanpa batas bisikkan suara, lepas: duhai, wajahmu, betapa indah menggairah sukma; Aku merasakan kehangatan, ketika cerita sembrani sang gagah berani kaubisikkan.
BNA, 2013
17/ BAHAGIA ITU, MILIKMU
Yang kaubutuhkan sekarang adalah, tenang tertidur... Leluasa lega hirup udara. Tenggelamkam lara, tinggalkan ketakberdayaan, keterbatasan rasa. Jadikan ini akhir, masa kau bertarung melawan luka... Kau menang.
Risau raga teraniaya...cukup kaluruhkan dengan satu kata, bisa. Benamkan, semayamkan dikedalaman relung. Kemudian terbangkan, lesatkan ia, selesat meteor di malam-malam kelam, keluarkan sepenuh jiwa.
Kuyakin, sebentar kulihat, kau tersenyum di bawah pohon nyiur. Meski di keremangan.
Kau tahu...? Kebahagiaan milikmu takkan tertukar, meski lekatnya luka membelit sakit, ia akan terhapus dengan perasaan misterius. Yang mengajakmu, mengembara ketempat mulia.
18/ TETAPLAH BERSAMAKU
oleh Erlin Erlina Soraya
Bu, jangan tinggalkan aku di sini, berdiam dengan kesedihan dan kesendirian. Ajak aku seperti dulu, menunggu bulan muncul di balik sudut telaga. Aku rindu semilirnya angin, riuh nyanyi daun.
Rindu tegak liuknya pohon, bagai pesona tarian. Aku ingin lihat lagi Ibu, saat malam larut, bulan bergerak turun, lalu telaga dimandikan oleh cahayanya. Kunang-kunang perlahan mengitari tempat kita duduk bersama.
Di bawah pohon kenari, biasa kita memandang tenang air, berkilau keperakan. Bercerita tentang cinta...
Temani aku Ibu, ceritakan kembali tentang hening malam, yang Dia muliakan. Tentang kisah kearifan, dan kisah-kisah kebesaran-Nya. Lalu isyaratkan padaku, bisikkan pada jiwaku, cerita-cerita indah surga.
BNA Wanadadi 02092013
19/ TENTANG BUNDA
oleh Erlin Erlina Soraya
Kelembutannya
tak pernah gagal menjelma cinta
tentang semilir angin
tak pernah memudarkan rasa
tentang asa
sebelum kelam mengganti petang
tentang puisi
yang selalu kutulis
di malam sepi.
Adalah cerita tentang bunda
setiap ceritanya
selalu serupa samudera lepas
tak kuasa kulihat tepinya
serupa lengkung langit
entah di mana sudutnya
BNA, 18122013
20/ SEPERTI KAU
oleh Erlin Erlina Soraya
Kan kugubah puisi
selaras nyanyi jiwa
kan kugali
lumbung nyali indrawi
indah
tak pernah sudah
Kan kunyanyikan
nyanyian jiwa
meski raga
terdera derita
Kubisa
menggubah
gugah jiwa
hingga kulihat
kekuatan indah
megah
BNA 22102014
21/ BU, AKU...
oleh Erlin Erlina Soraya
Bu...
di sela pun
tidak ada aku bu
jemput saja aku
pintunya rapat ibu
aku...mau pulang
Bu...
aku berjalan
lupa menghitung
jalan mana
harus kuhenti
: isakku tenggelam
Bu...
airku menguap
aku kehilangan
segantang cinta yang aku simpan
suara yang biasa kudengar
sudah enggan
aku kian letih ibu
Bu...
aku kehilangan rumah bulan
terbawa badai
ketika kulalai
saat siang mendung
Bu...
langitku gelap
mana lentera yang kemarin
aku ingin melihatnya
kenapa matanya jadi begitu dingin
Begitu dia ibu
ketika benci mencacah-cacah nurani
meremah hati
seketika kesah berlimpah
sejak bertahun kemarin
BNA Wanadadi 10062013
22/ MENEMBUS TEMARAM
oleh Erlin Erlina Soraya
Gerimis ini sudah tak lagi sama, ia membuat embun jatuh... "Raih tanganku, bawa aku pergi. Kaulihat, langit semakin pias, hampa, terluka."
Di mana bulan sembunyi, cahayanya akan aku jadikan lagu, menjadi irama yang mendendangkan harapan. Di senyap malam, bintang-bintang merintih, berbisik padaku, betepa sepinya kehilangan.
Duhai Kau, Pemilik bulan, aku hanya ingin tempuh jalan cinta, walau beribu kali kuterluka. Tolong, Kauterangilah, biarkan aku dengan cahaya-Mu, masuk ke dalam-Mu, jangan biarkan aku sendiri, perih, merasai hati.
Aku hanya ingin menundukkan jiwa, tenggelam bersama hening. Menyemayamkan rindu, takkan aku terlempar pada bayang hampa yang telah sudah. Melaju, menembus temaram melipat waktu.
Kutabur bunga, biar menebar wangi di taman-Mu. Dan kubisik pada malam : Aku menyukai kelamnya, heningnya, sebab Kau, ada.
BNA Wanadadi 14082013
23/ BIARKAN AKU DENGAN-MU
oleh Erlin Erlina Soraya
Menyebut-Mu duhai, Jangan pernah meninggalkan aku dalam perih. Berkali kulepas pinta, dari tetes air mata, hingga serupa derasnya hujan... Selama kumasih hela napas, tak kuhenti, kulepas. Kau, penuhilah relung hatiku, dengan kasih-Mu.
Jangan butakan aku sebab rasa, ingatkan aku pada suatu masa yang aku akan menjalaninya. Jadikan air mataku air mata rindu, di tiap terik siang, gigilnya malam.
Di hening pelataran-Mu...takkan kupergi, dari gelap hingga langit pias. Biarkan semesta membisik padaku, tentang-Mu. Khusuk menyelusup sejuk ke relung terdalam, mengalir seiring denyut nadi detak jantungku.
Di tiap waktu, kukan berdiri...simpuh, di hadapan-Mu. Seperti semesta yang tak pernah istirah, menyebut nama-Mu, bertasbih pada-Mu.
Kirimkan padaku wangi kasturi, Kekasih... Di hampar sajadah yang tak henti memanjang, hingga saatku tiba. Biarkan kunikmati semilir sejuk jatuh di pucuk sunyi. Juga indah kristal embun di saat pagi.
BNA Wanadadi 13082013
24/ MARIAH, MARIANA
oleh Erlin Erlina Soraya
Di kampung panggilanku Mariah
usia lima belas tahun
setelah di kota
suami mengenalkanku sebagai
Mariana...
setiap hari wajib dandan
biar tambah cantik
secantik nama baruku katanya
baju-baju yang mak beli dibungnya
rok mini kaos ketat penggantinya
biar nggak kampungan
katanya lagi
Suatu malam
aku sedang duduk di teras
jip hitam berhenti persis dihadapanku
keluar dua laki-laki serupa serigala
mereka sangar memandangiku
dari ujung kaki hingga rambut
Suamiku keluar
lalu bertanya pada dua lelaki serupa serigala itu
bagaimana?
cantik, kan...
: dan... tawa seringai mereka
BNA, 06092014
25/ KESAH RESAH
oleh Erlin Erlina Soraya
Bertahun... serupa air, serupa lumuran darah mengalir, serupa mimpi tentang janji yang tak pernah diikrarkan. Kau, aku adalah pelaku kesah resah, tak tahu ke mana mesti berjalan, entah mana daratan.
Penghujan ini, awal perjalanan panjang... Bertanyalah pada semesta, sebab apa kematian asa itu ada di hadapan? Segala menyisa gundah, pekik amarah, tersimpan dalam.
Aku ingat, ketika kupinta kau mendengar limpah kesah, serupa mendaur ulang hidup, hingga bertahun tak diam. Nyanyi pagi selalu terdengar, bagai daun tertiup kesiur lembut angin, menyentuh ujung helai rambut.
Namun sejak kemarin, rinai hujan bercampur debu, rindu menjelma sembilu, menghardik kalbu. Lagi, ku menilas jejak, lewati ruang-ruang resah, tempat tertinggalnya kesah resah.
BNA, 23102014
BNA, 28102014
Photo: Lukisan 2013 EES
Cat air di atas kertas A3
Tidak ada komentar:
Posting Komentar