Rabu, 03 April 2013

Lima Puisi EL

oleh Erlin Erlina Soraya (Catatan) pada 23 Oktober 2012 pukul 13:07


UJUNG WAKTU

adalah langit tempat berdiam sejoli bitang dan bulan
ketika mendung bergelayut menyembunyikannya
di balik kelabunya awan, sehingga mentari kehilangan
langit putih memjelma kelam

hujan ketika malam adalah rinai hati
setelah malam merayap pergi berlahan
malu-malu matahari membiaskan sinarnya
berjingkat mengendap-endap bersama angin

pelangi telah jatuh di ujung danau
ketika hujan pagi sudah enggan mencium bumi
pada matahari ia menengadah
: terima kasih kau telah membuat langit menjadi indah

hari-hari telalu cepat berganti
ketika mimpi tiada yang sudah
namun bukan kesalahan sang waktu
karena hanya berjalan yang dia tahu

awan putih menyandarkan hati pada senja
ketika lelah menyapa begitu lama
hingga malam menurunkan kembali jubahnya
: dengar, ujung waktu telah memanggilnya

BNA Wanadadi 23/10/2012


PESAN

kekayaan-Mu tak pernah semu
: berhambur, di raya luas tak terbatas
adalah ceria daun ketika siang panjang
dan mimpi musafir di bawah rimbunnya

kepada-Mu
kukatakan cinta
tak hanya ketika sepi berpuisi
namun di tiap detak jantung denyut nadi

ketika siang terang
matahari berbisik pada kepul awan
: jangan biarkan bumi kerontang
ketika kelamnnya malam
bulan tak pernah lupa menitip pesan
: kemanapun kau tengadah wajah-Nyalah yang terindah


RINDUKU, SEMESTA

aku ingin lihat
semesta nun jauh
ketika buih memeluk pantai
ketika gelombang menari dengan riaknya
ketika perahu kecil melabuh
dan ikan menanti jalanya

memerdu syahdu lagu dalam hatiku
ketika siang mulai temaram
mengubah laut menjadi warna jingga
tersenyum ramah
pada bulan yang masih sembunyi di balik bilik awan

kenapa rindu ini kian saja
bekulah hatiku
ketika hening memeluk jiwa
medekap cerita tentang semesta
yang tak lelah bertasbih pada-Nya

Semesta
malaikat, jin
gunung-gunung, gurun
bumi hingga tujuh langit
ikan besar di laut hingga semut
dan burung hudhud
semua bertasbih

aku malu
ketika bisik semesta tak henti
mengeja keluasan kasih-Nya
merasai kelembutan cinta-Nya
biarkan aku juga sama...
denganmu, duhai semesta

biar aku merasai setitik embun jatuh
di antara kabut dan sisa rembulan

Tuhan...


PERJALANAN

naik turun bukit berkabut
dari mendung siang hingga temaram senja memudar jingganya
pergilah ke sebuah tempat, istirahkan raga ketika lelah

berharap mendung tadi mengundang hujan
membawa pelangi, yang berjuntai seperti selendang penari
dan biar kularung pandanganku ke sana
pada ujung langit hingga bumi

malam ini, bulan sangat pemalu
dia selalu datang ketika malam menjelang
hanya pada gemintang dia banyak bercerita
tentang rindunya pada matahari

seringkali bulan sembunyikan sinarnya
yang keperakkan di balik awan
dia lebih suka hanya menitipkan pesan pada hujan
untuk mengikat rindu lewat tetesnya

Kekasih
di depan sana adalah rajutan misteri
yang tidak kumengerti
pasti Kau telah dengar gelisah
kesudahan derita adalah keinginan
entah hanyut di lautan nyeri
hingga layar sabar mesti dikembangkan

BNA Wanadadi 22/10/2012



RINDU PUTRI KECILKU

gigil dingin membuatku hanya diam
senyap tak membuatku beranjak
indahnya kunang-kunang pada kelam
tak lagi menyihirku

hingga gumpalan lembut putih keabuan
perlahan turun menjelma embun
bergayut pada daun
namun
pesonanya yang jelita
tak jua mengundang senyum

putri kecilku
kau adalah cinta yang tak terhapus
kini telah kau tanam sunyi di mataku
terbaring, menghilang ceriamu
mata jelimu lemah memandangku
kali ini kau adalah kejora
yang menyayat jiwaku

lihatlah,
jendela pun muram memandangmu
ia rindu kau bukakan daunnya
rindu sandaran tubuhmu ketika pagi
menunggu biasnya mentari

dan esok
hujan di luar sana
telah meninggalkan warna
pelangi yang kau suka
tersenyum mempesona

pada-Mu
sang penggenggam segala
kembalikan kejora di matanya
ceria yang biasa kusuka
tawanya yang membuat laraku sirna



MENGEJAR MIMPI

mentari pecah di ujung ranting
cinta yang terbelenggu pada bibir petang
lesap ditelan malam
ketika angin mati
hadir mimpi yang gelisah

derita datang
bukanlah kemauan
keputusan datang
tanpa keinginan

telah kubungkus rindu
pada penggal jalan
namun
masih mengejar mimpi
laut senandungkan cinta
camar mengepak manis sayapnya
ombak nyanyikan riak rindu

ketika bulan masih bergelayut pada awan
mendung tertawa gamang
hujan tak berani datang

aku ingin
seperti ketika itu
ada kupu-kupu melanda perutku
ada letup dalam debar
ada kejora di bening mata


BNAAY Wanadadi 05/10/2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar